Fungsi Parlemen Lokal, Data Base & Isu-isu Aktual

Just another WordPress.com weblog

DPR RI sahkan tiga kabupaten baru di NTT

 

Jakarta, PK

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) akhirnya mensahkan pembentukan tiga kabupaten baru di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yakni Kabupaten Nagekeo di Flores, Kabupaten Sumba Tengah dan Kabupaten Sumba Barat Daya di Pulau Sumba. Pengesahan tiga kabupaten itu bersamaan dengan 13 daerah otonomi baru lainnya di Indonesia.

Dengan disahkannya tiga daerah otonomi baru tersebut, maka di Propinsi NTT terdapat 19 kabupaten/kota. Selain itu, di Pulau Flores terdapat tujuh kabupaten, dan di Pulau Sumba ada empat kabupaten.

Pengesahan 16 daerah otonomi baru tersebut menyusul disahkannya Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pembentukan Kabupaten/Kota dalam rapat paripurna DPR RI di Ruang Nusantara II Gedung DPR RI Senayan-Jakarta, Jumat (8/12/2006).

Dalam rapat yang dipimpin Wakil Ketua DPR RI, Soetardjo Soerjogoeritno (Mbah Tardjo), 10 fraksi secara tegas menyetujui usul pembentukan 16 daerah otonomi baru tersebut. Hanya satu daerah yang akhirnya didrop (belum disetujui DPR, Red), yaitu calon kabupaten Memberamo Raya di Papua yang dinyatakan belum siap untuk dimekarkan.

Seluruh fraksi di DPR RI menyetujui pengesahan UU pembentukan 16 daerah otonom baru. Secara umum, dalam pandangan masing-masing fraksi, DPR RI mengingatkan agar proses pemekaran daerah dilakukan lebih hati-hati. Diingatkan pula, agar pembentukan kabupaten/kota lebih dimotivasi untuk peningkatan kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan mengejar kursi-kursi kekuasaan.

Hadir dalam pengesahan UU Pembentukan Kabupaten/Kota yang baru ini adalah pihak pemerintah yang diwakili Menteri Dalam Negeri (Mendagri) M Ma’ruf, Sekjen Depdagri Progo Nurdjaman dan Dirjen Otda, Kausar Ali Saleh.

Hadir juga sekitar 50-an tokoh masyarakat Ngada/Nagekeo, baik yang datang langsung dari Bajawa dan Kupang maupun yang berdomisili di Jakarta. Wakil Ketua DPR, Mbah Tardjo memukul palu tanda persetujuan DPR tepat pukul 12.05 WIB. Saat itu juga para tokoh masyarakat Ngada/Nagekeo berteriak kegirangan dan saling berpelukan hangat. Sementara masyarakat Sumba terlihat hanya beberapa orang hadir di Gedung DPR RI.

Selain Bupati Ngada, Drs. Piet Nuwa Wea, hadir pula pimpinan DPRD Ngada, para pejabat teras Setkab Ngada dan tokoh-tokoh Ngada di Jakarta. Anggota DPR RI asal NTT yang hadir saat itu antara lain, Victor Bungtilu Laiskodat, Anita Gah, dan Yos Nai Soi. Pada Jumat (8/11) malam pukul 20.00 WIB, mereka menggelar acara syukuran di perumahan DPR RI di Kalibata – Jakarta.

Sebagai tanda syukur, usai sidang paripurna DPR menetapkan Nagekeo sebagai kabupaten, Bupati Ngada, Drs. Piet Nuwa Wea mengajak seluruh yang hadir makan siang bersama di kafe DPR RI.

Seperti diketahui, usul pembentukan Kabupaten Batubara merupakan inisiatif pemerintah bersama empat usul yang lain, yakni Kotamobagu (Sulut), Sumba Tengah (NTT), Nagekeo (NTT), dan Empat Lawang (Sumsel). Sedang DPR RI mengusulkan 11 yaitu Bandung Barat (Jawa Barat), Gorontalo Utara (Gorontalo), Bolaang Mongondow, Minahasa Tenggara dan Sitaro (Sulawesi Utara), Subussalam, Pidie Jaya (Nangroe Aceh Drusalam), Kayo Utara (Kalimantan Barat), Sumba Barat Daya (NTT), Konawe Utara dan Buton Utara (Sulawesi Tenggara).

Calon Kabupaten Memberamo Raya dipastikan tidak masuk dalam pemekaran kali ini, karena masih mempunyai permasalahan lantaran masih ada persoalan cakupan wilayah. Kabupaten Memberamo Raya merupakan gabungan kecamatan dari dua kabupaten induk, yakni Kabupaten Sarmi dan Waropen, sementara PP Nomor 129 Tahun 2000 belum mengatur mengenai hal itu. “Dengan demikian, kabupaten dan kota kita di seluruh Indonesia kini telah bertambah,” kata Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno, saat menutup rapat.

Evaluasi kinerja pemerintah

Mendagri, Moh Ma’ruf dalam sambutannya mengatakan, pemerintah akan melakukan pembinaan terhadap 16 kabupate/kota baru yang disahkan. Dalam tahapan berikutnya, demikian Ma’ruf. pemerintah juga akan mengevaluasi kinerja pemerintahan di daerah-daerah otonom baru. Mendagri juga berharap agar DPR RI dan DPD (Dewan Perwakilan Daerah) lebih intensif lagi melakukan pengawasan terhadap daerah-daerah otonom baru.

“Pemerintah akan melakukan pembinaan dan evaluasi secara terprogram terhadap daerah-daerah otonom baru. Pemerintah juga berharap DPR ikut mengawal dan DPD agar lebih intensif melakukan pengawasan,” pinta Ma’ruf, yang mewakili Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono saat menyampaikan pandangan pemerintah dalam rapat paripurna pengesahan 16 daerah otonom baru itu. Mendagri dan DPR sepakat, pengesahan RUU Pembentukan Kabupaten Membrano Raya ditunda, menunggu sampai diselesaikannya persoalan tersebut.

Sekitar seribu masyarakat dari 16 kabupaten/kota baru membanjiri gedung DPR/MPR di Senayan, Jakarta. Mereka yang sudah tiba di Jakarta sejak Rabu (6/12/2006) sore ikut hadir dalam rapat paripurna DPR dan Jumat kemarin memadati gedung wakil rakyat itu sejak pukul 07.00 WIB. Sebagian dari mereka mengenakan pakaian adat masing-masing daerah, padahal paripurna baru dimulai pukul 10.00 WIB.

Masyarakat yang masuk ke ruang rapat paripurna diseleksi petugas keamanan karena ruang rapat tidak mampu menampung massa pendukung pemekaran itu. Untuk menenangkan massa yang berada di luar ruang rapat, DPR menyediakan tiga unit televisi yang menyiarkan langsung pengesahan pemekaran tersebut.  (jbp/ewa/son/osi)


Disambut pawai di Mbay

PENGESAHAN Rancangan Undang-Undang Pembentukan Kabupaten Nagekeo oleh DPR-RI di Jakarta, Jumat (8/12/2006) disambut gembira warga Mbay, ibukota Kecamatan Aesesa, salah satu kecamatan di Kabupaten Ngada, yang bakal menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Nagekeo. Sejak pukul 17.00 Wita-18.00 Wita, sekitar 500 warga menggunakan sepeda motor dan mobil, melakukan pawai keliling Mbay dan Maropokot.

Antusiasme warga ini disampaikan oleh Camat Aesesa, Bece Benediktus, S.H ketika ditelepon dari Ende, semalam. Camat mengatakan, kabar tentang pengesahan RUU Pembentukan Kabupaten Nagekeo di DPR RI, diperoleh melalui pesan singkat (SMS: Short Message Service) dari Jakarta.

Kabar gembira ini, katanya, langsung menyebar di masyarakat. Karena itu Forum Pembentukan Kabupaten Nagekeo langsung memfasilitasi aksi pawai warga di Mbay. Aksi ini, katanya, sebagai reaksi kegembiraan atas terwujudnya aspirasi masyarakat yang menginginkan pembentukan Kabupaten Nagekeo, pemekaran Kabupaten Ngada.

Menurut Camat Benediktus, hari ini (Sabtu, 9/12/2006), warga masih melakukan pawai ke desa-desa untuk menyampaikan kabar tentang pengesahan kabupaten baru itu. Aksi pawai hari ini direncanakan dimulai pukul 15.00 Wita.

Camat Benediktus, atas nama masyarakat Aesesa, menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada semua pihak yang selama ini berjuang sampai DPR mengesahkan pembentukan Kabupaten Nagekeo.

Sementara itu, Asisten II Setkab Ngada, John Elpi Parera yang dihubungi melalui telepon ke rumahnya di Bajawa, semalam, mengatakan bahwa warga Bajawa sudah mengetahui pengesahan Kabupaten Nagekeo oleh DPR RI. Momentum ini, katanya, bukanlah akhir tetapi awal dari sebuah cita-cita pembentukan kabupaten baru yang harus tetap diletakkan dalam semangat persaudaraan dan persatuan.

Pawai di Waibakul

Menyambut pengesahan Sumba Tengah menjadi daerah otonom oleh DPR RI, Jumat (8/12/2006), para pemuda mengendarai 30 buah sepeda motor menggelar pawai keliling melintasi Waibakul, calon ibu kota Kabupaten Sumba Tengah, Waihibur dan Wailolung. Melihat pawai tersebut, masyarakat umum spontan turun ke jalan menyaksikannya.

Antusias masyarakat itu dituturkan tokoh pemuda Sumba Tengah, Frangky Umbu Hungar, S.Sos, yang menyaksikan pawai tersebut. Frangky dihubungi ke telepon selulernya dari Kupang, Jumat (8/12/2006) malam. Menurut Frangky, suasana gembira menyelimuti masyarakat di Anakalang, ibu kota Kecamatan Katikutana, wilayah yang akan dijadikan ibu kota Kabupaten Sumba Tengah dan wilayah lainnya. Sejak pagi warga turun ke jalan, berkumpul di uma kalada (rumah besar atau rumah adat), menonton televisi mengikuti jalannya sidang paripurna DPR RI dengan agenda pengesahan daerah otonom di Indonesia, termasuk Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya.

Begitu DPR RI menjatuhkan palu, spontan masyarakat payawou, teriakan khas masyarakat Sumba Barat dan sejumlah pemuda melakukan konvoi sepeda motor menyebarluaskan kabar gembira itu kepada masyarakat yang berada di pinggiranAnakalang. Usai konvoi, kata Frangky, mereka berkumpul di pinggir jalan sampai malam hari.

Ditanya apakah ada pesta adat , Frangky mengatakan, untuk upacara adat dan kegiatan lain, belum dilakukan karena semua tokoh masyarakat, tokoh adat dan pejabat pemerintah berada di Jakarta untuk mengikuti pengesahan itu. Upacara itu akan dilakukan setelah semua komponen, perintis dan pejuang pembentukan kabupaten itu kembali dari Jakarta.

“Yang jelas, kami akan merayakan hasil perjuangan itu dengan pesta rakyat yang meriah. Kami harapkan, dengan pemekaran itu, sentuhan hasil-hasil pembangunan lebih dekat kepada masyarakat. Kami akan mengisi hasil perjuangan itu dengan kegiatan-kegiatan positif yang bersifat membangun. Tekad kami, Sumba Tengah harus cepat maju dan cepat sejahtera. Ini adalah misi utama pembentukan kabupaten itu,” kata Frangky.

Sementara tokoh masyarakat dari Sumba Barat Daya (SBD) Drs. John Umbu Deta menyampaikan terima kasih kepada Pemkab “induk” Sumba Barat, DPRD Sumba Barat, Pemerintah Propinsi NTT, DPRD NTT, Pemerintah Pusat (Pempus) dan DPR RI yang merespon aspirasi masyarakat yang memperjuangkan pembentukan daerah otonom tersebut. Dia mengharapkan, dengan pemekaran wilayah tersebut, pelayanan pembangunan lebih fokus sehingga masyarakat di wilayah itu lebih maju dan cepat mencapai kesejahteraan. Untuk itu, pemerintah dan masyarakat harus membangun sinergi untuk membangun daerah pemekaran itu.

Menurut Umbu Deta, pemekaran Sumba Barat Daya merupakan tantangan dan peluang. Tantangan jika otonomi daerah yang telah diberikan tidak dapat diisi dengan kegiatan-kegiatan pembangunan yang bermuara pada peningkatan kesejahteraanrakyat. Peluang karena pembentukan daerah otonom itu memberikan kesempatan seluas-luasanya kepada masyarakat untuk mengapresiasikan diri mengisi kepercayaan itu dengan kegiatan-kegiatan pembangunan yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan tersebut.

Masyarakat dan pemerintah, kata Umbu Deta, harus lebih berdaya guna meningkatkan produktivitas sehingga potensi sumber daya alam (SDA) yang dimiliki dioptimalkan untuk kesejahteraan rakyat. Umbu Deta mengharapkan masyarakat dan elit politik tidak berkelahi memperebutkan kekuasaan dan lain-lain dari hasil pemekaran itu. (vel/gem)


Tugas ‘induk’ belum selesai

“PERSIAPAN tidak ada masalah lagi, semuanya sudah beres. Kami sekarang ibarat sedang tunggu melahirkan saja,” demikian Wakil Bupati (Wabup) Sumba Barat, dr. Kornelius Kodi Mete, menjawab Pos Kupang di kantornya di Weekarou, Waikabubak, Rabu (22/11/2006) lalu.

Tak ada kata lain yang keluar dari mulut dr. Kornelius saat itu. Sebab, pertemuan kami saat itu sangat singkat. Kami terpaksa tidak bisa melanjutkan wawancara karena saat itu tamu istimewanya, Wakil Ketua DPRD Sumba Barat, Drs. Hugo Rehi Kalembu, sudah berada di depan pintu ruang kerja wabup.

Sejak Mei 2002 lalu, atau sekitar empat tahun tujuh bulan lamanya, warga Kabupaten Sumba Barat (Sumbar) memang terus hidup dalam penantian. Selama itu, mereka menantikan lahirnya sang bayi, yakni Kabupaten Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya, sebagai pemekaran dari kabupaten induk, Sumba Barat. Berbagai upaya dan kerja keras telah mereka lakukan demi lahirnya dua kabupaten baru itu.

Kini, sang bayi yang ditunggu-tunggu itu telah lahir, setelah Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pembentukan Kabupaten/Kota itu disahkan dalam rapat paripurna DPR RI di Senayan-Jakarta, Jumat (8/12/2006). Dengan pengesahan RUU ini maka wilayah Kabupaten Sumba Barat sebagai kabupaten induk telah resmi dibagi menjadi tiga, yakni Kabupaten Sumba Tengah, Sumba Barat Daya dan Sumba Barat sebagai kabupaten induk.

Sebagai kabupaten induk, tugas pemerintah Kabupaten SumbaBarat tidak sampai disitu. Dengan menggunakan analogi sang bayi tadi, Sumba Barat sebagai kabupaten induk masih mempunyai tanggung jawab dalam mendidik dan membesarkan sang bayi sampai sang bayi besar dan bisa hidup mandiri. Lantas, apa yang dilakukan Pemkab Sumba Barat setelah pemekaran ini?

***

PELAKSANA Tugas (Plt) Kabag Tata Pemerintahan Setkab Sumba Barat, Drs. Richard Djami, kepada Pos Kupang dan Mingguan Suara Pembebasan, di kantornya di Weekarou, Rabu (22/11/2006), menjelaskan, ada tiga hal prinsip yang telah mereka persiapkan dalam kaitan pemekaran ini, yakni berkaitan pendanaan, personil serta sarana dan prasarana.

Mengenai pendanaan, jelas Djami, berdasarkan persetujuan DPRD setempat dalam sidang perubahan anggaran tahun 2006, disepakati kabupaten induk menyiapkan dana penunjang masing-masing Rp 5 miliar dalam jangka waktu selama dua tahun. “Pengalokasian dana itu mulai dilakukan sejak tahun 2006, tapi pemanfaatannya menunggu pemekaran. Dana tersebut diambil dari APBD Kabupaten Sumba Barat,” kata Djami.

Dana Rp 5 miliar itu semata-mata digunakan untuk biaya operasional penyelenggaraan pemerintahan. Saat pengangkatan penjabat untuk kabupaten baru, kabupaten induk juga berkewajiban untuk melengkapi dengan memberikan mobil operasional kepada penjabat bersangkutan.

Alokasi atau penempatan personil ke kabupaten baru juga dilakukan sesuai kebutuhan wilayah. Pembentukan organisasi dan perangkatnya tentu harus sesuai beban kerja. Tetapi masalah yang satu ini kemungkinan cukup rumit. Sebab, parapegawai yang ada kemungkinan ingin kembali ke ‘kampung’ halamannya.

Dalam konteks ini, peran kabupaten induk sangat penting sehingga para pegawai itu tidak ingin pindah sesuai kemauan atau keinginannya. Misalnya, orang yang bertugas di Kabupaten Sumba Tengah tidak boleh langsung minta pindah ke Kabupaten Sumba Barat Daya karena yang bersangkutan berasal dari sana. “Untuk sementara ini diambil kebijakan agar personil yang saat ini bertugas di kabupaten baru dengan sendirinya masuk di kabupaten baru itu,” kata Djami.

Kebijakan pengalokasian pegawai ke kabupaten induk ini sudah tentu berdampak terjadinya kekurangan pegawai pada kabupaten induk. “Sebagai kabupaten induk, kami mengharapkan pemerintah pusat bisa segera mengisi kekurangan ini. Tapi kami pada prinsipnya juga mengharapkan agar pengalokasian personil ini tidak boleh melemahkan kabupaten induk, karena tugas kabupaten induk selama 2-3 tahun ke depan tetap sebagai pembina,” kata Djami.

Mengenai sarana dan prasarana, menurut Djami, untuk tahun pertama sebelum kabupaten baru menyusun APBD semuanya masih menjadi tanggung jawab kabupaten induk. Untuk kantor bupati dan DPRD misalnya, opsinya bisa dilakukan dengan menyewa gedung atau memakai kantor camat yang sudah ada. (kas)

Catatan:

1.Keberhasilan pemekaran tiga kabupaten di NTT merupakan bagian dari peran DPRD Kabupaten yang memperjuangankan aspirasi masyarakat.

2.Kabupaten Sumba Barat Daya yang baru dimekarkan merupakan  daerah kelahiran saya dan tempat saya mendapat pencerahan dari orang tua.Saya mohon kepada teman-teman  untuk memberikan dukungan  untuk penataan kelembagaan dan landasan tata ruang kabupaten yang baru.

3. Saya ingin agar kabupaten ini menjadi berkembang dan alternatif kota wisata selain Bali.Memiliki 12 gelombang(hawai hanya 9 gelombang), ada budaya Pasola(perang diatas Kuda) setiap bulan Februari) dan  batu kubur megalitiknya….

4.Terimakasih atas dukungan teman2 dan perhatiannya..

December 9, 2006 - Posted by parlemenlocalwatch | Uncategorized | | 7 Comments

7 Comments »

  1. sebagai putra daerah nagekeo saya merasa bangga dan menjunjung tinggi kerja keras dari segenap lapisan masyarakat,para pejabat tinggi Daerah Ngada dan semua simpatisan yang turut serta mengambil bagian dalam pembentukan kabupaten Nagekeo. sebuah penantianpanjang yang sangat di nanti-nantikan oleh segenap warga nagekeo selama bertahun-tahun akhirnya tercapai.namun sebuah pertanyaan reflektif muncul ke permukaan ketika sebuah wilayah yang secara geografis sangat sentral untuk di jadikan pusat perkembangan industri,perdagangan dan lain-lain, yang oleh banyak orang yakin bahwa Nagekeo akan menjadi sebuah batavia baru di abad 21 ini.pertanyaannya mampukah nagekeo mewujudkan impiannya itu??dan mampukah impian itu diimplementasikan oleh semua pelopor,pejuang,pejabat dan segenap lapisan masyrakat Nagekeo??atau jangan-jangan ada “stageman baru ada stakeholder-stakeholder” baru yang berbonceng dibalik pecahnya wilayah kabupaten Ngada ini???
    harapan kita bersama adalah pemekaran kabupaten adalah untuk lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat,bukan untukkepentingan segelintir orang…BRAVO N SLAMAT BERJUANG…CONGRATULATION NAGEKEO…MAI KITASAMA-SAMA MO KUNGU DUBU LOGO UNA UNTU ANA EBU POA WENGI ZUA..

    LAGHO SOLO

    Comment by peter lowa | January 19, 2007

  2. selamt berjuang maayarakat nagekeo dan teruslah berjuang, untuk menata masa depan rayat Nagekeo yang adail, sejatera. karna ispirasimu TELAH MEMBERIKAN TITIK TERANG UNTUK MEMBANGUN NAGEKEO YANG MANDIRI

    salam sukses untukmu Nagekeo

    Comment by CHRIS | February 9, 2007

  3. Saya bukan putera daerah Nagekeo, tetapi menyelesaikan pendidikan kejuruan di Boawae. Ngada memang luas, saya setuju Nagekeo menjadi kabupaten sendiri dengan itu bisa lebih mengkonsentrir pemikiran, tenaga serta energi semaksimal mungkin untuk membangun daerah. Putera-puteri Nagekeo yang kini masih di luar daerah, sebaiknya kembali membangun Nagekeo….. tapi satu catatan sebagai perantau melihat Ngada secara keseluruhan….. maaf ini pengalaman nyata. Banyak orang Ngada menjadi terkenal karena keahlian, pendidikan tinggi justru di luar Ngada. Birokrat kita terlalu sukuis…. kapabilitas dan komptenesi yang dimiliki sering kandas oleh penerimaan pegawai yang sarat sukuis…. lalu kapan bisa maju. Pejabat mengeluh SDM orang Ngada minim, tetapi di luar Ngada banyak orang Ngada berprestasi. Sebagai kabupaten baru, pejabat kita di Nagekeo diharapkan tidak meniru praktek sukuisme di kabupaten ngada kita dahulu….. inilah kesempatan dimana profesionalitas mendapat tempat yang memadai. Proficiat Bupati Nagekeo.

    Comment by John Moa Diaz | July 25, 2007

  4. bravo mbay ayo maju terus.Ayas sebagai putra mbay yang ad di Malang selalu mendukung Apapun itu bentuk perjuangan dari para pelopor, pejuang, pejabat semuanya saja tolong mbay dibaut ramai denga kemajuan dan kemakmuran tuk segenap warga dan masyarakat mbay umumnya kab.nagekeo.Ok….Salam tuk arek-arek alorongga n nila city..

    Comment by rayz | September 27, 2008

  5. asal tidak korupsi dan tidak mementingkan diri sendiri,golongan,suku ras. saya yakin pasti anda diberkati.

    Comment by jarichard | February 12, 2009

  6. SUMBA BARAT DAYA, bagai impian kita yg kini jadi kenyataan…
    setelah lahir … kita wajib merawat dan membesarkan… mendewasakannya untuk kesejahteraan dan kemakmuran warga SBD … warga “Tanah Marapu”… sebagai bentuk nyata kewajiban… tanggung jawab…. kita anak2 dari bumi marapu… kita berhak atas kehidupan yg layak di atas tanah sendiri .. kita hrs waspada karena bisa saja tidak akan lama waktunya… kita menjadi penonton atau asing di tanah sendiri… karena ‘orang luar’ begitu jeli membaca kesempatan dan peluang besar kedepan.. mereka sudah membaca bagaimana SBD kedepan … adakah kita siap agar tdk terlena dan pelan tapi pasti akan terpinggirkan karena kurang waspada ? Bagaimana anak cucu kita nanti ? apakah mereka masih akan memiliki SBD (SUMBA) ? MARI KITA JAWAB DG KERJA KERAS & BERGANDENG TANGAN MEMBANGUN SBD (SUMBA) … PANDUA TANA.. BERSATU KITA TEGUH & SINGKIRJAUHKAN EGO, DENGKI DAN IRIHATI (benih2 perpecahan dan permusuhan) yg akan mengakibatkan kehancuran.. MARI BERSATU MENGGAPAI MASA DEPAN SBD … MASA DEPAN ANAK CUCU KITA …

    Comment by WILHELMUS NANI BOELOE | March 24, 2009

  7. harapan saya dari pemekaran SDB, tunjukan bahwa kita bisa membangun SBD dengan potensi2 yang melimpah. berdasarkan hasil pengamatan saya membuktikan bahwa potensi untuk SDB dari SDA sangat mendukung. dibanding dengan kabupaten lain.

    Comment by alexandro kaka | August 24, 2009


Leave a comment